• SMA NEGERI 6 KOTA KOMBA
  • LONG LIFE EDUCATION_ LANGIT DAN BUMI AKAN BERLALU TAPI PERKATAANKU TIDAK AKAN BERLALU_ BELAJAR SEPANJANG MASA

FILOSOFI PENDIDIKAN MANGGARAI: UPAYA MENELISIK PENDIDIKAN KARAKTER INDONESIA

Pendidikan Indonesia saat ini sedang diguncang oleh berbagai permasalahan kompleks yang berakibat pads hilangnya jati diri, dan karakter dan tujuan dari pendidikan dalam konteks keindonesiaan.  Bagaimana tidak,  saat ini generasi bangsa kita telah menjadi sorotan dan berbagai upaya dilakukan oleh pemerintah seperti pergantian menteri pendidikan, pergantian kurikulum serta program lainya demi menunjang dan memulihkan karakter pendidikan Indonesia. Pergantian terus menerus menteri pendidikan dan kurikulum merupakan sebuah tanda dari pemerintah bahwa saat ini Pendidikan Indonesia sedang mencari jati diri. Pergantian menteri pendidikan dan kurikulum dilakukan bertolak dari kegagalan dari sistem Pendidikan yang berlaku, apalagi wilayah Indonesia yang luas dengan berbagai macam suku ras dan golongan. Tentunya Menteri pendidikikan juga harus jelih dan cerdas dalam menerapkan kurikulum pendidikan agar semua ras dan golongan yang terdiri dari macam-macam karakter bisa menikmati serta merasa adil akan kebijakan itu. Misalnya karakter peserta didik di Jawa pasti brbeda dengan karakter peserta didik di Indonesia bagian timur, akan tetapi jika penerapan kurikulum pendidikan Indonesia sama rata artinya penerapan kurikulum untuk peserta didik di Jawa sama dengan di NTT maka di sini ada kesenjangan dalam pencapaian. Tidak salah jika kurikulum pendidikan Indonesia tidak pernah mencapai klimaks untuk wilayah Indonesia timur. Perbedaan kualitas pendidikan antara Indonesia barat dan Indonesia timur merupakan gambaran sederhana bagaimana gagalnya kurikulum pendidikan Indonesia.

Lalu dimanakah letak urgensi dari filosofi lokal, budaya khas tertentu  dalam menyumbang pembentukan karakter bangsa kita saat ini. Adakah sumbangan istimewah yang terdapat pada filosofi lokal dan budaya kita? Mari kita selidiki.

Filosofi Pendidikan Manggarai

Filosofi merupakan salah satu ajaran atau tata nilai (baik) yang secara sadar di regenerasikan untuk kepentingan generasi di masa depan. Suatu filosofi yang diajarkan oleh para tetua terdiri dari berbagai macam diantaranya filosofi pendidikan, Kepemimpinan, norma dan nilai dan seterusnya. Sebagai contoh adapun filosofi pendidikan Ki Hajar Dewantara   tut wuri handayani (di belakang memberi dorongan), ing madya mangun karsa (ditengah menciptakan peluang untuk berprakarsa), ing ngarsa sung tulada (di depan memberi teladan).

Ketiga semboyan di atas apabila kita maknai serta hayati bersama merupakan akar dan ujung tombak dari peran serta guru dalam menjalankan roda pendidikan nasional. Semboyan ini sejalan dengan yang diutarakan oleh Abidin (2015) bahwa tugas dan fungsi guru didalam kelas tidak hanya transfer knowladge, melainkan inti dari tugas guru adalah mengembangkan, mengarahkan, dan memberimotifasi. Hal ini merupakan filosofi ataupun nilai pendidikan orang Jawa yang sudah diterapkan dalam kurikulum pendidikan Indonesia. Di sini ada sebuah pernyataan refleksi apakah untuk situasi pendidikan di NTT sudah sesuai dengan konsep kurikulum yang berlaku? Tentu tidak dan belum, hal ini masih jauh dari harapan. Apapun kurikulumnya, siapapun menteri pendidikannya NTT tetap mendapat predikat terakhir. Dari fenomena ini kita harus menemukan titik persoalannya yaitu apa penyebab dari semua ini? Hemat penulis yang menjadi titik awal persoalan adalah guru sebagai pengajar dan kurikulum sebagai kerangka dalam artian ke mana arah pendidkan kita. 

Jika seorang pendidik (Guru) menerapkan 100% kurikulum yang diterapkan oleh pemerintah maka yang menjadi sasaran adalah peserta didik, dimana kurikulum yang diterapkan sebenarnya untuk orang Jawa tetapi karena guru kurang kreatif maka akan lansung diterjemahkan lurus tanpa pertimbangan kondisi siswa. Hal ini tentu berakibat fatal dan berdampak pada karakter siswa sendiri, yang mana orang NTT misalnya dipaksa untuk bersaing dan sama dengan orang di kota besar yang di kelilingi oleh fasilitas yang lengkap.

            Di sini penulis menawarkan filosofi atau Nilai Pendidikan Manggarai untuk diterapkan di sekolah

NO

NILAI

MAKNA

1

Tinu

Memelihara

2

Toing

Mengajarakan, memberdaya, membawa terang

3

Titong

Menuntun

4

Teing

Memberi

5

Toe Tegi

Tidak meminta

Nilai nilai diatas merupakan nilai yang bersifat universal artinya tidak hanya untuk pendidikan tetapi juga untuk berbagai faktor misalnya sebagai landasan dalam  memimpin.

Dari nilai-nilai diatas yang tepat untuk diterapkan dalam sistem belajar dan pembelajaran adalah Toing: mengajarkan, memberdaya, membawa terang.  Disini peran guru tidak hanya sebagai pengajar bagi peserta didik melainkan sebagai seorang yang bisa membawa terang dalam konteks pendidikan dan karakter.

Titong:Menuntun. Dalam hal ini guru berperan sebagai penuntun, pengarah, dan memberi teladan yang baik.  Ada sebuah pepatah Pepatah mengatakan “Guru kencing berdiri, maka siswa kencing berlari”. Jadi apabila fenomena hari ini menunjukkan bobroknya mental di kalangan pelajar kita, maka sepatutnya kita merefleksikan kepada diri kita apakah kita sudah benar-benar memberikan contoh yang baik bagi siswa. Sebab faktanya pendidikan negeri ini belakangan banyak diguncang dan dhadapkan pada kasus-kasus seperti asusila, kekerasan, narkotika, tawuran, bullying, dan masih banyak lagi sederet cerita panjang betapa lembaga pendidikan kita hari ini sering sekali dirundung duka. 

Tinu: memelihara, merawat. Dalam hal ini guru harus merawat peserta didik agar karakternya tidak bobrok dan tetap menjunjung tinggi etika. Maka guru disini dituntut untuk kreasi agar mengambil nilai yang ada disekitar lingkungan sosialnya agar peserta didik tidak lagi berimajinasi.

Teing: memberi. Dalam hal ini, guru harus memberikan segala pengetahuannya yang dimilikinya kepada peserta didik. Peran guru disini sebagai pelayan yang dimana melayani apapun yang menjadi kebutuhan dari peserta didik dan dalam hal ini diupayakan minimal guru harus satu langkah lebih menguasai apapun dari peserta didiknya sehingga seorang guru harus terus belajar dan memiliki mental pembelajar sepanjang hayat agar dapat memenuhi kebutuhan peserta didiknya;

Toe tegi : Tidak meminta. Guru dalam tugas pelayanannya jika mampu memberi dengan sepenuh hati maka ia tidak akan meminta apapun. Dalam hal ini berarti guru menyadari bahwa ia memang dipanggil untuk melayani, menjadi pengarah yang baik dan yang paling penting adalah bekerja tanpa diminta dan meminta.

Hemat penulis, Filosofi pendidikan dalam budaya Manggarai ini lebih menyoroti peran kita sebagai guru dalam tugas pelayanan kita. Peran guru tidak hanya sebatas pada pembelajaran dikelas tetapi jauh lebih dari pada itu adalah bagaimana peran kita dalam proses pertumbuhan karakter peserta didik itu sendiri karena yang paling penting dari pendidikan adalah bagaimana ia mampu bertanggung jawab atas dirinya sendiri, hidup menurut budayanya sendiri dan memiliki kepribadian yang baik dalam masyarakat

 

Tulisan Lainnya
Saksi

Adakah yang seberani ini Menjadi saksi suami istri Bukankah aku belum penuh berisi   Menjadi saksi Bukan untuk dipuji Apalagi lahirkan sensasi   Perjalanan belum usai

09/08/2022 11:07 - Oleh Frumensius Hemat - Dilihat 8 kali
Mari bersama

Kita punya tenaga dan daya Namun tetap bersama agar digdaya Ini bukan soal punya harta Sama tersenyum dan bahagia itu yang utama   Jangan pernah merasa punya segalanya Itu ti

18/07/2022 20:09 - Oleh Frumensius Hemat - Dilihat 37 kali
Kobok

Demikian sekarang namamu.. Kobok Kadang budi dan hati diobok-obok Bahkan tak sadar jadi diolok olok Pada saatnya tak sadar bobok Airmu tak bohong di sana atau dipojok Kelihatan sep

20/05/2022 23:04 - Oleh Frumensius Hemat - Dilihat 38 kali
Hujan

Pagi mendung dan dingin Saat-saat jumatan Air membasahi jalan Layaknya sejoli berpasangan Tanah dan air hujan Matahari pun enggan Menyinari badan Tetaplah sehati dan sepikiran A

18/03/2022 08:55 - Oleh Frumensius Hemat - Dilihat 108 kali
Kopi Lagi

Kuseduh kopi kali ini Di hari yang bukan lagi pagi Temani hati dapatkan inspirasi Di saat sana sini sibuk mencari Entah nasib maupun rejeki   Kopi ini Rasanya tak beranjak p

10/03/2022 10:35 - Oleh Frumensius Hemat - Dilihat 80 kali
5 November

LIMA NOVEMBER Hari Berganti dan Tanggalpun Selalu Beranjak Lima November Selalu Hadir Dalam Galaksi Hati Tersimpan di antara semesta jiwa Kian melekat terpampang erat Sepanjang jalan k

05/11/2021 09:03 - Oleh Robertus Higmat Alang - Dilihat 129 kali
Pelita yang terus menyalah dari pelosok negeri

Pendidikan dan segala dinamika di dalamnya merupakan suatu topik yang  tidak pernah habis untuk dibahas. Begitu banyak persoalan yang ditemukan dalam dunia pendidikan mulai dari ke

20/05/2021 20:40 - Oleh Maria Fatima Baru - Dilihat 259 kali
Menjadi Pemimpin: Saya dipilih atau dipanggil?

Pertanyaan singkat ini syarat akan makna bagi siapa saja yang sedang mengembankan suatu jabatan. Semua orang akan berlomba-lomba ingin menduduki suatu jabatan dalam suatu lembaga dan ha

07/05/2021 23:32 - Oleh Maria Fatima Baru - Dilihat 186 kali
benalu

janganlah jadi benalu gerogoti hidup tanpa malu hidup tidak semaumu yang tidak sanggup akan berlalu   aku dan dirimu ciptaan sama dan satu seharusnya terus  memburu untuk hidu

12/04/2021 11:53 - Oleh Frumensius Hemat - Dilihat 166 kali