• SMA NEGERI 6 KOTA KOMBA
  • LONG LIFE EDUCATION_ LANGIT DAN BUMI AKAN BERLALU TAPI PERKATAANKU TIDAK AKAN BERLALU_ BELAJAR SEPANJANG MASA

MERDEKA MENGAJAR

MERDEKA MENGAJAR

(Antara Harapan dan Kenyataan)


Bulan Agustus yang lalu kita baru saja merayakan hari ulang tahun (HUT) kemerdekaan yang ke-76. Selama lebih dari tujuh dekade, kita melakukan berbagai kegiatan untuk mengangkat harkat dan martabat bangsa yang sebelumnya tergerus oleh para penjajah. Pertanyaannya sekarang, sudah sejauh mana pencapaian kita dalam bidang pendidikan? Apakah kita sudah mendekati tujuan pendidikan sebagaimana dirumuskan dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945, mencerdaskan seluruh anak bangsa? Apakah setelah 76 kita hidup dalam alam kemerdekaan, bidang pendidikan kita juga benar-benar sudah merdeka? Beberapa pertanyaan ini menjadi pertanyaan klasik yang sering didengungkan saat ini, dan jawaban yang paling tepat untuk pertanyaan-pertanyaan itu adalah “Masih dalam proses menuju itu” dan mungkin juga bias menggunakan jawaban “Biarkan sang waktu yang menjawab”

Kembali menyinggung soal merdeka belajar, jika kita lihat tahun-tahun sebelumnya tentu seluruh pelajar Indonesia akan berbondong-bondong menyambut dan merayakannya dengan berbagai jenis perlombaan. Saya masih ingat sebelum pandemi COVID-19 melanda Indonesia, pada setiap merayakan Hari HUT Kemerdekaan Indonesia para pelajar terlihat sangat antusias memeriahkannya dengan berbagai kegiatan dan perlombaan. Namun, dua tahun terakhir setelah pandemi Covid-19 melanda tanah air, peringatan HUT Kemerdekaan Indonesia dirayakan secara virtual. Di mana Semua unit kegiatan dan perlombaan dibatasi, mengingat pandemi Covid-19 belum terkendali.

Peringatakan HUT ke-76 Kemerdekaan Republik Indonesia mengingatkan bahwa masih banyak yang harus dibenahi, terutama di sektor pendidikan. Untuk membentuk generasi penerus bangsa yang berkualitas dan berdaya saing, maka pendidikan menjadi gerbang utamanya. Pentingnya peran pendidikan pada zaman ini, tentu menjadi bidang yang terus disorot, termasuk sistemnya yang berkembangan pesat.

Pendidikan merupakan titik tolak ukur kehidupan manusia dalam setiap peradaban. Untuk itu setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan yang layak dan dijamin oleh negara. Seperti halnya para pelajar di kampung-kampung, khususnya daerah tertinggal yang seyogianya mendapatkan pendidikan yang meluas, merata dan berkeadilan. Namun kenyataannya masih banyak pelajar mengalami ketimpangan pendidikan, khususnya di wilayah pedesaan seperti yang dialami kami di wilayah NTT saat ini.

Kondisi ril menceritakan bahawa sistem pendidikan di NTT mengalami berbagai keterbatasan. Penulis saat ini sangat merasakan bagaimana belajar dengan berbagai kondisi pendidikan yang serba terbatas. Jangankan belajar dengan menggunakan bantuan teknologi yang canggih, fasilitas pendidikan, seperti gedung, ruang belajar/kelas, media belajar, meja dan kursi masih kurang memadai dalam melaksanakan kegiatan proses belajar mengajar.

Konsep "Merdeka Belajar" menurut saya adalah solusi terbaik bagi para pelajar di seluruh Indonesia untuk menciptakan visi reformasi pendidikan di Indonesia, baik pelajar di kota maupun pelajar di pinggiran. Dengan lahirnya jargon merdeka belajar tersebut para pelajar dituntut untuk mempunyai inisiatif dan berpikir lebih bebas dengan mengeksplor seluruh kemampuan dan bakat tanpa tekanan untuk mendukung setiap kegiatan pembelajaran di sekolah. Namun kalau kita kaji lebih dalam jika pelajar di pinggiran dituntut memiliki produktivitas belajar dengan konsep merdeka belajar, tetapi dengan fasilitas yang kurang memadai, saya membayangkan yang terjadi adalah inefesiensi dari merdeka belajar itu sendiri.

Merdeka belajar belum semuanya dirasakan pelajar di daerah kami. Yang terjadi malah timbulnya kesenjangan  antara sekolah di wilayah pinggiran dan wilayah perkotaan yang memiliki fasilitas lebih lengkap dan canggih. Sementara di kampung-kampung fasilitas pendidikan jauh dari kata lengkap.

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) menjadi indikator utama perkembangan pendidikan kita saat ini. Belajar dengan menggunakan teknologi sudah menjadi cara praktis bagi para pelajar dalam menambah informasi, meningkatkan minat belajar, memudahkan akses belajar dan mendapat materi yang variatif dan modern. Di sini pentingnya teknologi selalu diikuti perkembangannya terhadap perkembangan pendidikan saat ini.

Proses pembelajaran dengan menggunakan teknologi dengan konsep merdeka belajar memang penting terhadap kualitas pelajar. Tetapi menjadi hambar apa bila sekolah di kampung-kampung yang tidak memiliki fasilitas berbasis teknologi dan jaringan internet yang memadai. Hal tersebut membuat para pelajar di pinggiran tertinggal dan menghambat segala produktivitas dan kreativitas belajar.

Kesenjangan era teknologi tergambar dari akses teknologi di Indonesia belum merata, terutama bagi para pelajar di daerah tertinggal. Adik-adik di pinggiran yang sedang memupuk kualitas diri seharusnya mendapatkan pemerataan di bidang teknologi agar tidak terpinggirkan atau termarjinalkan dari ilmu pengetahuan dan teknologi yang makin berkembang. Jika tidak ada langkah kongkret dari sektor pendidikan, maka yang terjadi adalah kualitas pelajar di pinggiran akan semakin rendah dan sulit untuk bertumbuh menjadi pelajar yang produktif di era teknologi.

Menyikapi keterbatasan sarana dan daya dukungan dalam mendukung merdeka belajar, peran dan kompetensi guru menjadi harapan terakhir. Guru harus mampu berinovasi dan mencari alternatif model pembelajaran dengan goalnya merdeka belajar. 

Dalam mewujudkan merdeka belajar, guru memiliki peran penting sebagai penggerak utama dalam menciptkan suasana belajar yang lebih baik. Guru adalah figur sentral yang langsung mengintervensi berbagai kekurangan dan kelebihan para pelajar. Karena secanggih apapun teknologi dan infrastruktur sekolah, guru tetap menjadi alternatif sebagai trigger dalam meningkatkan prestasi akademik siswa menjadi lebih kreatif.

Mutu pelajar di pinggiran tidak lepas dari figur seorang guru, karena guru memiliki hubungan yang sangat intens dengan siswa. Guru harus mampu berkolaborasi dengan siswa secara aktif untuk mendorong siswa terus berkembang dan lebih kompetitif. Bukan sekedar guru yang baik dan berkualitas melainkan, guru juga memiliki kemauan untuk berinovasi melakukan perubahan dalam pendidikan. Agar merdeka belajar benar-benar terealisasi dengan baik bagi pelajar di pinggiran, guru harus memanfaatkan fasilitas-fasilitas pendidikan secara produktif walaupun dengan berbagai keterbatasan, sambil tetap memperhatikan kualitas kesejahteraan guru. Karena kesejahteraan guru menjadi point penting untuk mengkorelasikan dengan peningkatan kualitas pendidikan. (RHA)

 

Komentari Tulisan Ini
Tulisan Lainnya
Akses Belajar Murid Dalam Kegiatan Kepanitiaan Turnamen Sepak Bola SMA dan SMK Kabupaten Manggarai Timur

Kata Awal Sesungguhnya kerja sama dan kolaborasi yang dipraktikkan dalam kehidupan bersama adalah cerminan semangat gotong royong dan bernilai pancasilais. Fakta membuktikan bahwa kerj

21/06/2022 21:54 - Oleh Frumensius Hemat - Dilihat 61 kali
Membidik Potensi Wisata Kuliner Lokal Orang Rongga Lewat Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila di SMAN 6 Kota Komba

Tulisan kecil ini bertolak dari keresahan yang cukup panjang terkait hidup dan matinya potensi 

29/04/2022 07:31 - Oleh Frumensius Hemat - Dilihat 50 kali
KARTINI DAN EMANSIPASI WANITA ZAMAN NOW

Setiap tanggal 21 April sejak tahun 1964 merupakan hari bersejarah bagi pergerakan kaum perempuan Indonesia. Tanggal itu merupakan cikal bakal lahirnya ruang kebebasan wanita atau kaum

21/04/2022 07:03 - Oleh Maria Fatima Baru - Dilihat 189 kali
Catatan Kecil Dari Perlombaan Hardiknas Bagi SMAN 6 Kota Komba

Hidup jika tidak direflesikan sebaiknya jangan diteruskan... Demikian Sokrates, filsuf Yunani Kuno bersabda. Titik tolak dari kehidupan yang lebih baik dan terarah adalah refleksi yang

04/04/2022 06:02 - Oleh Frumensius Hemat - Dilihat 147 kali
Catatan Refleksif Pasca Webinar Unika St. Paulus Ruteng: Rekognisi Sosial dan Intelektual Dengan Menulis Karya Ilmiah

Pagi mendung tak surutkan langkah Lewat webinar yang bukan setengah setengah Awalnya sedikit susah Suatu saat jadi lumrah dan meriah   Saya mulai dengan ucapan terima kasih ke

19/03/2022 12:22 - Oleh Frumensius Hemat - Dilihat 121 kali
Membangun Jiwa Entrepreneurship Lewat Proyek Wu'u Di SMAN 6 Kota Komba

Tulisan kecil ini pada dasarnya mau mengamankan sebuah ide yang biasa-biasa saja. Ide tentang membangun dan menciptakan branded tersendiri dari SMAN 6 Kota Komba, dari output proyek pen

08/02/2022 17:48 - Oleh Frumensius Hemat - Dilihat 242 kali
Catatan Kecil Kegiatan Bedah Buku: Petra Book Club, Bekas Sanpio dan Komunitas literasi SMAN 6 Kota Komba

Kemarin, tepatnya 3 Februari 2022, bertempat di Lopo Taman Baca Ad Lumen Sanpio, sekolompok kecil yang terdiri dari tiga lembaga: Petra Book Club, Bekas Sanpio dan Komunitas litera

04/02/2022 09:55 - Oleh Frumensius Hemat - Dilihat 178 kali
Mendalami Kurikulum Sekolah Penggerak Melalui Diklat Revitalisasi Tingkat Sekolah

            Kado akademik bagi guru dan tenaga kependidikan SMA N 6 Kota Komba awal tahun 2022 ini adalah sebuah pelatihan dalam rangka merevitalisasi kuri

13/01/2022 09:55 - Oleh Maksimilianus Galawanto - Dilihat 304 kali
MEMBACA SEBAGAI SATU GERAKAN BERSAMA

Membaca adalah budaya orang berpendidikan. Mengunjungi perpustakaan semestinya menjadi panggilan dann kebiasaan orang berpendidikan maupun terdidik. Salah satunya dengan revitalisasi pe

29/11/2021 11:46 - Oleh Wihelmina Jaja - Dilihat 157 kali
SMA Negeri 6 Kota Komba Gelar Senam Bersama: Sebuah Catatan Kecil

Tubuh yang sehat adalah impian setiap orang. Kesehatan merupakan kebutuhan vital dan perlu usaha dan perjunahan. Sehat tidak datang dengan sendirinya tetapi perlu ada upaya dari dalam d

05/11/2021 20:09 - Oleh Petrus Kanisius Foju - Dilihat 203 kali