You need to enable javaScript to run this app.

MEMBACA SEBAGAI SATU GERAKAN BERSAMA

  • Senin, 29 November 2021
  • Wihelmina Jaja
  • 1 komentar
MEMBACA SEBAGAI SATU GERAKAN BERSAMA

Membaca adalah budaya orang berpendidikan. Mengunjungi perpustakaan semestinya menjadi panggilan dann kebiasaan orang berpendidikan maupun terdidik. Salah satunya dengan revitalisasi peran dan fungsi perpustakaan yang ada di sekolah. Perpustakaan harus menjadi penunjang kebiasaan membaca para siswa maupun para guru. Untuk diketahui, penulis saat ini mengabdi sebagai guru di SMA Negeri 6 Kota Komba Kelurahan Tanah Rata, Kecamatan Kota Komba, kabupaten Manggarai Timur. Penulis sangat mendukung gagasan yang disampaikan oleh Kepala Sekolah SMA Negeri 6 Kota Komba bapak Frumensius Hemat, S. Fil pada setiap upacara bendera. Beliau mengajak para siswa untuk senantiasa berkunjung ke perpustakaan sekolah. SMA Negeri 6 Kota Komba sudah menyiapkan perpustakaan yang menujung minat bakat para siswa. Bapak Kepala Sekolah mengharapkan partisipasi aktif dari para siswa. Karena jelas ada perbedaan mendasar antara para siswa yang gemar membaca dengan para siswa yang malas membaca. Siswa yang rajin membaca di perpustakaan akan mendapat nilai tambah bagi perbendaharaan katanya. Ia akan terlibat aktif saat berdiskusi. Sedangkan siswa yang malas membaca akan enggan untuk berdiskusi. Tentu ia akan ketinggalan informasi-informasi dunia. Hal ini tentu menjadi keprihatinan kita bersama.

Dalam pengamatan penulis, ada beberapa alasan mengapa minat baca siswa rendah. Pertama, di lingkungan keluarga tidak punya kebiasaan membaca. Hal ini tidak dimungkiri. Kondisi sosial ekonomi juga berpengaruh. Di rumah, tidak ada buku yang dipajang di lemari. Hal ini memengaruhi minat anak untuk membaca. Tak heran jika minat baca tidak dibangun sejak dari rumah. Kedua, para guru pun tidak punya kebiasaan membaca. Guru adalah teladan. Apa yang diucapkan tentu selaras dengan apa yang dilakukan. Ketika guru memberi nasehat kepada para siswa untuk membaca namun guru tidak membaca, tentu para siswa akan enggan untuk membaca. Tak heran, minat baca siswa pun tidak bertumbuh. Ketiga, koleksi buku di sekolah tidak banyak. Bicara membaca, tentu akan mengarah kepada koleksi buku. Ada siswa yang tertarik membaca buku novel, ada siswa yang tertarik membaca buku pelajaran. Juga ada siswa yang tertarik membaca ensiklopedi. Hanya saja, sekolah tidak menjawab kebutuhan akan perbedaan koleksi buku ini. Hal ini membuat para siswa enggan berkunjung ke perpusatakaan.

Berangkat dari ketiga akar permasalahan ini, penulis berpikir membaca atau literasi perlu menjadi gerakan kita bersama. Bukan hanya tanggung jawab para guru akan tetapi juga menjadi tugas dan tanggung semua pihak. Keluarga dan pemerintah berkewajiban menjadikan membaca sebagai budaya. Bagi keluarga, perlu menumbuhkan kebiasaan membaca. Di rumah hendaknya para orang tua memberi ruang kepada adanya buku dan koran atau sumber bacaan yang ramah anak. Di lemari atau sudut ruangan hendaknya disimpan buku. Dengan melihat adanya buku, anak tentu akan tertarik. Dari tertarik, sang anak akan pelan-pelan mengambil buku dan mulai membaca. Selain para orang tua diharapkan selalu memberi semangat dan dorongan kepada anak untuk selalu berkunjung ke perpustakaan saat di sekolah.

Kedua, bagi para kepala sekolah hendaknya mulai menunjukan keberpihakan kepada semangat literasi. Dukungan tersebut bisa pada pengadaan buku dengan koleksi yang menjangkau keinginan para siswa. Novel, koran Nasional, ensiklopedi, cerita bergambar, komik atau koleksi buku lainnya. Anggaran dana BOS hendaknya mengakomodir kebutuhan ini. Selain itu, kepala sekolah juga bisa menggunakan haknya sebagai pemimpin di sekolah dengan mengarahkan para guru untuk mendampingi para siswa berkunjung ke perpustakaan. Kepala sekolah hendaknya juga turut aktif menggerakkan semangat membaca baik di perpustakaan maupun di kelas.

Selain para orang tua dan kepala sekolah, pemerintah dalam hal ini kepala desa /lurah juga bisa berpartisipasi menggerakkan kebiasaan membaca. Kepala desa bisa menganggarakan dana desa/Kelurahan untuk mendirikan taman baca masyarakat. Sehingga para siswa saat pulang sekolah juga memiliki tempat untuk menyalurkan minat baca yakni di taman baca yang telah didirikan oleh pemerintah desa. Dengan tanggung bersama ini, penulis yakin kebiasaan membaca bukan hanya sekadar teori tapi juga sebagai satu gerakan.

Dengan partisipasi aktif dari semua pihak, membaca bukan hanya sebatas diskusi di warung kopi semata. Membaca bukan hanya sebatas topik yang selalu kita perdebatkan. Akan tetapi membaca akan menjadi satu gaya hidup. Di rumah, anak-anak menghabiskan waktu dengan membaca. Di sekolah, perpustakaan akan menerima banyak kunjungan dari para siswa. Di lingkungan masyarakat pun, membaca menjadi kebiasaan masyarakat. Para siswa setidaknya menjadi agen di tengah masyarakat. Ada warga yang tentunya tertarik untuk mengikuti kebiasaan positif yang digerakkan oleh para siswa. Untuk itu penulis berharap, membaca hendaknya menjadi gerakan bersama. Baik itu oleh orang tua, kepala sekolah bersama para guru dan pemerintah dalam hal ini kepala desa. Tugas kita Bersama menghantar generasi muda menjadi manusia yang cerdas dan berwawasan luas.

Salam Literasi untuk kita semua.

 

Bagikan artikel ini:

1 Komentar

"Mantap Ibu, Salam Literasi"
29 Nov 2021 16:43 Petrus Kanisius Foju

Beri Komentar

Frumensius Hemat, S.Fil

- Kepala Sekolah -

Puji Syukur kita persembahkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas berkah Dan rahmatnya sehingga akhirnya kami dapat meluncurkan kembali...

Berlangganan
Jajak Pendapat

Bagaimana informasi yang dipublikasikan di website ini sungguh membantu anda?

Hasil